Selasa, 20 Agustus 2013

Semua Berubah, Dunia Berubah, dan Akupun Berubah

Dua hari lagi aku akan berangkat menuju Jakarta. Kota sejuta impian. Kota terpadat di Indonesia. Pusat perekonomian dan pusat segala hal penting di negara ini. Tapi bagiku Jakarta lebih dari itu. Jakarta adalah sebuah tempat di mana aku harus mengasah diri menjadi lebih dewasa, lebih mandiri, lebih pintar dan lebih kuat untuk tak bersama orang-orang yang aku sayang,, keluarga, pacar, sahabat, teman :'( 




seperti baru kemarin aku dilahirkan di sini, di sebuah kota kecil yang  penuh misteri, hingga hari-hari terakhirku di sini akan segera tiba. sesungguhnya aku sangat tidak ingin kehidupan ini berubah, aku masih ingin menjadi seorang anak sekolah yang polos dengan sejuta impian kosong seperti dulu, tetap menjadi anak kecil yang ketika emosi bisa langsung marah dan meninju orang, tapi waktu berlalu begitu cepat.


ketika aku tersadar, duniaku telah berubah, umurku telah bertambah, dan aku telah tumbuh menjadi sosok yang bahkan aku sendiri tak bisa mengenali diriku lagi. ini lah aku saat ini, yang mengabaikan mimpi-mimpiku dulu untuk kuliah di ITB, yang mengabaikan kesempatan masuk UGM, demi sebuah perubahan, demi sebuah kemapanan, demi orang-orang yang ada di sekelilingku.

aku tak pernah berfikir bahwa pada akhirnya aku akan masuk Perguruan Tinggi untuk belajar Statistika, aku tak pernah tau apa itu STIS sebelum
aku menginjakkan kaki ku di kelas 3 SMA, sebelum aku merasakan betapa sulitnya menghadapi masa depan. aku tak tau apakah ini akan berjalan baik. aku tak tau apakah ini adalah pilihan yang benar. aku pun tak mengerti apakah yang kulakukan ini adalah sebuah bentuk kedewasaan atau hanya ketertarikan sesaat.

tapi aku selalu punya harapan besar untuk membahagiakan mereka. mereka yang menaruh mimpi-mimpinya padaku. mereka yang tetap tersenyum tulus padaku meski aku terjatuh dalam kegagalan. Dunia dan semuanya telah mengubah pandanganku, mengubah mimpi yang dulunya hanya untuk "diri sendiri" tapi kini aku mulai berpikir bagaimana bila aku dapat mengabdikan diri untuk negara ini, berjuang demi kemajuan tanah tempat aku lahir, tempat aku dibesarkan. Bagaimana aku membayar sayur dan air yang telah aku makan dari tanah ini, Indonesia.

Fields of Hope

Mungkin terlalu muluk, tapi aku selalu mengharapkan dan takkan berhenti berharap suatu saat nanti akan datang seorang pemimpin yang tegas, jujur, profesional, amanah, dan benar-benar mampu memimpin bangsa ini dengan cara yang sesuai dengan karakter Indonesia yang kita cintai ini. 




akupun kini mulai mengerti kalau ternyata "mimpi" itu hanya bunga tidur, tetapi "harapan" punya kekuatan lebih besar untuk diwujudkan, karena kita berharap saat kita masih terjaga tidak seperti mimpi yang kita temui pada saat tidur. Harapan adalah hal yang membuat aku, dia, dan semua orang masih bekerja, berjuang sampai saat ini, menapaki jalan yang bahkan mungkin tidak cocok dg keinginan diri.

bagaimanapun juga aku sadar, aku belum sepenuhnya tumbuh, aku butuh lebih banyak lagi pengalaman, aku butuh diajari lebih banyak lagi oleh-Nya sang Penguasa Alam Semesta, aku punya tujuan, aku punya rencana, dan aku butuh lebih dari sekedar usaha untuk dapat menggapainya, yakni keridhoan-Nya, Allah SWT, Tuhan yang Maha Segala-galanya.


Mungkin inilah jalan terbaik yang harus kulalui, sebuah kampus yang luar biasa di Jakarta Timur, dengan orang-orang yang luar biasa. semoga aku bisa betah di sini menjalani pendidikan di sini selama kurang lebih 4 tahun. dan semoga nanti aku dapat penempatan kerja yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan.




sungguh aku akan merindukan semua yang ada di sini, kota ini, rumah ini, suasana ini. 
selamat tinggal semuanya, aku pergi untuk menggapai bintang di langit.
semoga semua kenangan kita tetap terjaga 
hingga saatnya nanti kita bertemu lagi 
di kesempatan dan suasana yang berbeda, 


Good Bye Manna
The Mysterious City 
:D




2 komentar:

  1. Pergilah nak, kalu mati skill mendam di manna itulah hahah

    BalasHapus
  2. pacak ngicik kb jok, haha,, lah ndak pegi lah ini

    BalasHapus