Selasa, 08 April 2014

Apa yang Saya Pikirkan Ketika Membaca Apa yang Mereka Tulis

Lihatlah semua ini, tidak ada yang nyata. Dunia yang ideal itu tidak akan pernah ada. Semua berbeda setelah kita tau. Semua semu ketika kita lihat kenyataan. Saat kita merasa telah menemukan kebenaran, ketika itu pula ada ketidak-benaran yang terselip. Semua motivator slalu berbicara positif meski mereka tahu itu hanya ilusi, dan tepatnya mereka lakukan itu karena "uang". Kalau memang bukan karena uang, coba saja memotivasi orang pedalaman, orang-orang kampung yang tidak punya uang. Faktanya tidak ada. Semua hanya berbicara. Seperti para politikus yang saling menjatuhkan. Berusaha menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain yang dianggap berkaitan dan menyudutkan orang lain tanpa bukti. Menghubungkan hal tanpa fakta hubungan yang riil dan membawa nama agama dalam kekotoran politik. Sungguh keji!

Akupun diam memandangi fenomena ini. Begitu banyak orang yang merasa sudah tahu seluruh isi dunia ini tanpa mementingkan bukti dan praduga tak bersalah, melumpuhkan logika demi sebuah pemikiran ekstrim tentang sebuah paham agama. Mereka
tidak tahu bagaimana orang-orang kurus itu bekerja untuk masyarakat, untuk kesejahteraan bersama. Mereka tidak pernah membandingkan betapa sedikitnya jam tidur orang yang mereka jelek-jelekkan itu dibandingkan dengan orang-orang yang cuma bisa menuduhnya dg membawa-bawa agama maupun permainan logika #miris

Semua orang awam termakan hasutan orang-orang yang haus kekuasaan, untuk membenci yang benar, untuk membenci orang yang benar-benar berjuang demi rakyat, untuk membenci orang yang berusaha keras memperbaiki Negeri ini.

...

"berikanlah jabatan pada orang yang tidak menguasainya dan tunggulah kehancuran negara ini!"

ketika seorang penyanyi dangdut dan para manusia yg disebut-sebut alim ulama tergiur kekuasaan, merasa mereka bisa memegang kendali bangsa ketika berada di posisi tinggi. Padahal sejarah kemerdekaan saja mereka bahkan tidak tau, bahkan alur administrasi dan peraturan negara saja mereka tidak paham, dan bahkan undang-undang saja mereka tidak mengerti, bagaimana mereka punya muka ketika bertatap di Forum Internasional? padahal sejatinya mereka mudah terjebak dan tertipu.

Para cerdik pandai dengan permainan logika mereka berusaha memutar balik fakta, berharap dukungan dari sesuatu yg seolah-olah benar-benar untuk rakyat, padahal itu hanya sarana mereka untuk naik jabatan ataupun untuk kepuasan mereka pribadi, bukan sama sekali untuk rakyat.

Begitu juga dg para ustad yg terburu nafsu, pada akhirnya mereka berharap orang-orang kolot yg idealis akan agamanya itu akan termakan hasutan mereka untuk pada akhirnya mengangkat mereka ke posisi tertinggi, lalu jadilah negara ini negara orang-orang bodoh yang dipimpin berdasarkan rasisme dan diskriminasi kaum mayoritas.

sampai kapan mayoritas bertingkah? sampai kapan kita menutup mata? bagaikan katak dalam tempurung, apa yang dibaca, itu yang dipercaya. kita bisa merdeka bukan karena kekuatan mayoritas, tetapi karena mayoritas dan minoritas bersatu, karena kita berusaha menghilangkan arti negatif dari perbedaan dan menyatukan pikiran dalam satu visi kebersamaan. Toleransi. Berusaha melihat sesuatu dari kedua sisi, tidak hanya sudut pandang kita tapi juga sebaliknya.

Manusiawi ketika egoisme menguasai diri, namun ketika orang lain harus menderita karena egoisme kita dalam memilih, hanya karena kita ingin embel-embel agama yang kita pilih menang, hanya karena kita termakan emosi ketika membaca artikel yang tidak jelas kebenarannya dan ketika kita terhasut oleh "kebenaran semu" yang dipanjatkan para penulis penipu di berbagai situs mereka yang bahkan membawa dan mengotori nama agama. Pada akhirnya nanti ketika kebenaran membuktikan bahwa kita salah, apakah kita masih sanggup melihat orang-orang yang mengemis meminta sesuap nasi dipinggir jalan dan akhirnya mati karena tak ada makanan? kemudian anak-anak mereka menjadi yatim? dan itu adalah salah kita karena kita telah memilih orang yang tidak kredibel karena rasisme kita terhadap agama. KITA AKAN MEMBUNUH SAUDARA KITA secara tidak langsung!

Buang ego, buka mata, dan bandingkan dengan jelas kualitas mereka
Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar