Selasa, 29 Juli 2014

Sebuah Pilihan

Sebuah pilihan selalu memiliki konsekuensi, seperti sebuah cerita yang selalu punya sisi indah untuk dikenang. Ya, dulunya kupikir memilih Sekolah Tinggi Ilmu Statistik sebagai tempatku melanjutkan pendidikan adalah pilihan yang paling menjanjikan, namun apakah benar? Apakah STIS benar-benar menjanjikan untuk masa depan? Apakah kuliah di STIS benar-benar lebih baik daripada kuliah di universitas maupun perguruan tinggi kedinasan lainnya?



Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Ketertarikan ku pada

Jumat, 16 Mei 2014

Secarik Lagu

Malam ini aku ingin bercerita padamu tentang diriku yang hidup dalam nyanyian. Aku terlahir sebagai seorang manusia biasa, dengan kecintaan yang tidak biasa pada musik. Ya, ini mutlak adalah anugerah Tuhan jika akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang menjauhkanku dari "pelampiasan yang buruk" yang berakar pada emosi diri tanpa kontrol ini.

Aku membuang semua rasa benciku pada hal-hal yang memuakkan di dalam alunan nada, menjadikannya sebuah lagu dan menyimpannya dalam harddisk 500gb di internal laptopku. Hingga kini semua nyanyian itu terekam dan tersimpan dalam memory yang kokoh. Yang ketika aku buka dan kudengar lagi, nyanyian itu membawaku terbang ke dalam ingatan tanpa batas. Itulah arti musik, sebuah ingatan yang terekam indah dalam nada.

Saat kalian bicara soal skill dan kemampuan bermusik, aku akan angkat tangan dan melambai pada kamera. Aku lemah. Kemampuanku dalam bernyanyi masih jauh dan kepandaianku dalam bergitar tak dapat mengimbangi ide-ide kreatif yang mendesak jiwaku untuk melantunkan keindahan. Aku muak jika harus mengatakannya, tapi aku akui, aku merasa sulit menciptakan nada baru jika tidak ada seorang pemain yang ahli mendampingiku untuk memainkan nada. Namun

Selasa, 08 April 2014

Apa yang Saya Pikirkan Ketika Membaca Apa yang Mereka Tulis

Lihatlah semua ini, tidak ada yang nyata. Dunia yang ideal itu tidak akan pernah ada. Semua berbeda setelah kita tau. Semua semu ketika kita lihat kenyataan. Saat kita merasa telah menemukan kebenaran, ketika itu pula ada ketidak-benaran yang terselip. Semua motivator slalu berbicara positif meski mereka tahu itu hanya ilusi, dan tepatnya mereka lakukan itu karena "uang". Kalau memang bukan karena uang, coba saja memotivasi orang pedalaman, orang-orang kampung yang tidak punya uang. Faktanya tidak ada. Semua hanya berbicara. Seperti para politikus yang saling menjatuhkan. Berusaha menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain yang dianggap berkaitan dan menyudutkan orang lain tanpa bukti. Menghubungkan hal tanpa fakta hubungan yang riil dan membawa nama agama dalam kekotoran politik. Sungguh keji!

Akupun diam memandangi fenomena ini. Begitu banyak orang yang merasa sudah tahu seluruh isi dunia ini tanpa mementingkan bukti dan praduga tak bersalah, melumpuhkan logika demi sebuah pemikiran ekstrim tentang sebuah paham agama. Mereka