Kamis, 26 Desember 2013

Perjalanan Penuh Hikmah

hari ini aku bertemu dengan seseorang, yang mungkin bagi kalian, dia itu hanya orang biasa, tapi apa yang dia katakan telah mengubah pandanganku terhadap apa yang saat ini aku hadapi. izinkan aku bercerita tentang pertemuan dan perkenalan kami yang singkat dan sangat berharga bagiku.

siang itu, seperti yang telah direncanakan, aku akan berangkat pulang ke tanah kelahiranku, provinsi bengkulu. yahh setelah melewati UTS yang cukup horor di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik selama dua minggu lamanya, akhirnya ada minggu tenang di mana jadwal kuliah kosong dan ada libur natal serta tahun baru.

awalnya aku sangat ragu ketika akan memutuskan untuk pulang kampung atau tidak, mengingat biaya perjalanan menuju bengkulu yang tidak sedikit dan lelahnya perjalanan yang akan ditempuh. namun kemudian setelah tau teman satu kos ku si dedi akan pergi ke tangerang selama libur, maka aku memutuskan untuk pulang dan langsung memesan tiket pesawat yang paling murah di salah satu agent yang berlokasi tak jauh dari kampus.

aku pun mulai merasa menyesal ketika tau bahwa saudara-saudara sepupuku yang di bengkulu ternyata malah berlibur ke jakarta tepat sehari sebelum keberangkatanku menuju bengkulu. di tambah lagi pesawat yang terpaksa harus delay hampir satu jam karena alasan operasional yang gak jelas -_-. huhh, dan akupun mulai berpikir, mungkin keputusanku untuk pulkam adalah salah.

pada akhirnya aku dan penumpang lain hanya terpaku sayu, menunggu keberangkatan di dalam pesawat yang telah menjebak kami dalam sistem mereka yang sangat pintar. ketika aku tengah terjebak dalam kebosanan, tiba-tiba seorang perempuan yang duduk di sebelahku nyeletuk berbicara. awalnya hanya basa-basi yang biasa digunakan orang untuk mencairkan suasana. namun kemudian kami malah berkenalan, dan terus berlanjut dengan obrolan yang lumayan asik seputar kisah kehidupan, pendidikan, dan perjuangan.

sebut saja namanya

Rabu, 25 Desember 2013

Tak Sesempurna Dulu (Song and Story)

aku sangat sadar, aku hanya lah sebutir debu kecil yang tertiup angin, terbang menembus cakrawala, yang kadang terhempas dan lebih sering terinjak dalam pesimisme hidup. terlalu banyak yang mengatakan bahwa aku memiliki banyak hal baik, bakat, potensi, namun tak ada satupun yang tau bahwa dibalik semua itu aku tak melihat adanya masa depan.


aku tak yakin pada diriku, pada hidupku, pada apa yang kujalani. semuanya mengalir begitu saja. seperti air yang dapat masuk ke lubang wc, yang terbawa arus menuju selokan, terus ke sungai dan berakhir di lautan perjuangan dunia yang begitu keras. sekeras hati ini yang dulu tak mau mendengarkan pendapat orang lain, yang egois sehingga harus merasakan berbagai penyesalan tak berujung.

begitu banyak yang aku lalui di sini. begitu banyak yang dunia ini ajarkan padaku. dan begitulah aku, tak pernah berubah, hanya mementingkan ego ku sendiri, tak sadar diri, tak sadar akan kesempurnaan diri yang kian memudar, menghilang ditelan hingar bingar ibu kota, dan kemudian larut dalam kesunyian yang gelap dan meghanyutkan.



malam itu aku berpikir, siapa aku dulu? siapa

Selasa, 20 Agustus 2013

Semua Berubah, Dunia Berubah, dan Akupun Berubah

Dua hari lagi aku akan berangkat menuju Jakarta. Kota sejuta impian. Kota terpadat di Indonesia. Pusat perekonomian dan pusat segala hal penting di negara ini. Tapi bagiku Jakarta lebih dari itu. Jakarta adalah sebuah tempat di mana aku harus mengasah diri menjadi lebih dewasa, lebih mandiri, lebih pintar dan lebih kuat untuk tak bersama orang-orang yang aku sayang,, keluarga, pacar, sahabat, teman :'( 




seperti baru kemarin aku dilahirkan di sini, di sebuah kota kecil yang  penuh misteri, hingga hari-hari terakhirku di sini akan segera tiba. sesungguhnya aku sangat tidak ingin kehidupan ini berubah, aku masih ingin menjadi seorang anak sekolah yang polos dengan sejuta impian kosong seperti dulu, tetap menjadi anak kecil yang ketika emosi bisa langsung marah dan meninju orang, tapi waktu berlalu begitu cepat.


ketika aku tersadar, duniaku telah berubah, umurku telah bertambah, dan aku telah tumbuh menjadi sosok yang bahkan aku sendiri tak bisa mengenali diriku lagi. ini lah aku saat ini, yang mengabaikan mimpi-mimpiku dulu untuk kuliah di ITB, yang mengabaikan kesempatan masuk UGM, demi sebuah perubahan, demi sebuah kemapanan, demi orang-orang yang ada di sekelilingku.

aku tak pernah berfikir bahwa pada akhirnya aku akan masuk Perguruan Tinggi untuk belajar Statistika, aku tak pernah tau apa itu STIS sebelum